Netanyahu berada dalam tekanan dari partainya sendiri, Likud, untuk merekrut lebih banyak pria ultra-Ortodoks dan memberlakukan sanksi bagi para penghindar wajib militer – hal yang dianggap sebagai garis merah oleh partai-partai seperti Shas, yang menuntut undang-undang yang menjamin pengecualian permanen bagi anggotanya.
Menjelang pemungutan suara pada Kamis pagi, media Israel melaporkan bahwa pejabat-pejabat dari koalisi Netanyahu tengah menggelar pembicaraan dengan para pemimpin ultra-Ortodoks guna mencari titik temu dalam isu tersebut.
Dalam langkah yang dimaksudkan untuk memberi waktu bagi negosiasi itu, koalisi Netanyahu mengisi agenda Knesset dengan sejumlah RUU guna menunda pemungutan suara pembubaran.
Menteri keuangan yang berhaluan sayap kanan ekstrem, Bezalel Smotrich, mengatakan pada Rabu (11/6) bahwa menjatuhkan pemerintah di masa perang akan menjadi bahaya eksistensial bagi masa depan Israel.
"Sejarah tidak akan memaafkan siapa pun yang menyeret negara Israel ke dalam pemilu saat perang masih berlangsung," kata Smotrich kepada parlemen, seraya menambahkan bahwa ada kebutuhan nasional dan keamanan bagi komunitas ultra-Ortodoks untuk ikut serta dalam dinas militer.Pemerintahan Netanyahu bertahan karena didukung oleh aliansi antara partainya, kelompok-kelompok sayap kanan ekstrem, dan partai-partai Yahudi ultra-Ortodoks. Jika salah satu dari kelompok pendukung ini menarik diri maka pemerintahan akan jatuh.

1 tahun yg lalu





![[Tabligh Akbar] Dari Banten untuk Indonesia Damai - Ustadz Adi Hidayat](https://i1.ytimg.com/vi/0IjyKlfB3Lo/maxresdefault.jpg)


![[LIVE] 40 Hadits Pokok Dalam Islam - Ustadz Adi Hidayat](https://i1.ytimg.com/vi/M98MxIs-cn4/maxresdefault.jpg)