7 bulan yg lalu

Krisis Phronesis: Kritik Filosofis Model ‘Riset Berdampak’


Jaja Jamaludin, M.Si.

Dosen Filsafat Universitas Bosowa sejak Februari 2013-Sekarang

Riwayat Pendidikan

Magister Fisika Universitas Indonesia 2002-2004

TRIBUNNEWS.COM - Artikel Tribunnews.com berjudul “ Menjahit Ilmu, Teknologi, dan Kemanusiaan yang ditulis Iwan Sugihartono dan Hery Budiawan, menekankan pentingnya peran riset di perguruan tinggi sebagai mesin pembangunan dan pemacu kemajuan nasional. Pandangan ini didasarkan pada gagasan modern bahwa sains harus memiliki “dampak langsung” terhadap masyarakat, politik, dan kemajuan negara. 

Visi ini, meskipun menginspirasi dalam praktik, menimbulkan pertanyaan mendasar dalam filsafat ilmu pengetahuan dan epistemologi moral: apakah “dampak” selalu identik dengan kemajuan, dan haruskah ilmu pengetahuan selalu diukur berdasarkan kegunaannya?

Selama dua dekade terakhir, pendidikan tinggi di Indonesia telah mengalami pergeseran fokus kognitif yang signifikan: dari pencarian kebenaran menjadi penciptaan “barang”.

Paradigma baru yang dipopulerkan dengan istilah penelitian berdampak ini mengharuskan setiap penelitian menghasilkan dampak sosial, ekonomi, atau politik yang nyata. Di permukaan, gagasan ini tampak progresif: sains menjadi “produktif” dan bukan sekadar wacana akademis.

Namun, di balik idealisme ini terdapat permasalahan filosofis yang mendalam: apakah ilmu pengetahuan masih merupakan jalan menuju kebijaksanaan (phronesis) atau justru telah direduksi menjadi alat teknokratis yang melayani kepentingan utilitarian?

Artikel ini merupakan kritik filosofis terhadap paradigma penelitian berdampak dengan menggali lima bidang refleksi yaitu reduksi epistemik, krisis metodologis, dominasi algoritmik, ilusi etis tentang dampak, dan hilangnya telos humanistik universitas.

Pertama, Reduksi kognitif dari cinta akan kebenaran ke rasionalitas utilitarian. Dalam tradisi Yunani kuno, sains lahir dari rasa thaumazeinâa yang menghargai keberadaan. Bagi Plato, pengetahuan sejati adalah perenungan terhadap bentuk-bentuk ideal yang melampaui kepentingan praktis. Sedangkan bagi Aristoteles, manusia disebut epistemikon binatang karena kebutuhan alamiahnya adal...

Baca Seluruh Artikel

© Rileks 2026. Semua hak dilindungi undang-undang


Warning: Unknown: Write failed: Disk quota exceeded (122) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/home/gfrlsiym/rileks.my.id/src/var/sessions) in Unknown on line 0