Liputan6.com, Jakarta - Perilaku toxic sering kali tidak disadari. Padahal, dampaknya bisa sangat merusak kesehatan mental maupun fisik. Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa, dr. Hilda Marsela, Sp.KJ, perilaku toxic sebenarnya bukan soal 'orangnya', melainkan efek yang ditimbulkan dari interaksi tersebut.
"Sebenarnya toxic itu bukan tentang orangnya, tetapi apa dampaknya. Dari interaksi orang-orang di dalam itu dampaknya gimana terhadap kita. Apakah dampaknya positif atau negatif," kata Hilda dalam Talkshow Warasnya di Tengah Kerasnya Hidup dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia melalui live Instagram Kemenkes RI pada Jumat, 10 Oktober 2025.
Lingkungan toxic bisa muncul di mana saja --- mulai dari hubungan percintaan, keluarga, hingga tempat kerja. "Sebagai contoh toxic relationship, misalnya kekerasan verbal atau fisik, dampaknya bisa bikin pasangan jadi takut dan stres," katanya.
Hal yang sama juga terjadi di dunia kerja. "Lingkungan kerja toxic misalnya diwarnai kompetisi yang nggak sehat. Individu yang merasakan ini jadi nggak aman, takut, nggak berani berekspresi, dan akhirnya jadi stres," tambahnya.
Namun, keluar dari situasi toxic bukanlah hal yang mudah. Banyak orang memilih bertahan karena keterikatan emosional atau rasa takut kehilangan.

8 bulan yg lalu





![[Tabligh Akbar] Dari Banten untuk Indonesia Damai - Ustadz Adi Hidayat](https://i1.ytimg.com/vi/0IjyKlfB3Lo/maxresdefault.jpg)


![[LIVE] 40 Hadits Pokok Dalam Islam - Ustadz Adi Hidayat](https://i1.ytimg.com/vi/M98MxIs-cn4/maxresdefault.jpg)