11 bulan yg lalu

Eks PM Hun Sen Ungkap Peran Krusial ASEAN dalam Perjalanan Damai Kamboja


Liputan6.com, Jakarta - Presiden Senat Kamboja Samdech Akka Moha Sena Padei Techo Hun Sen menuturkan hubungan panjang yang terjalin antara Kamboja dan ASEAN.

Mengulas sejarah negaranya, Hun Sen menyatakan bahwa Kamboja pernah mengalami keterasingan diplomatik akibat pandangan dunia yang terbelah dalam era Perang Dingin.

Meskipun rezim Pol Pot yang brutal digulingkan oleh Vietnam, pemerintahan baru di Phnom Penh justru tak diakui dan dijatuhi sanksi oleh komunitas internasional—termasuk oleh ASEAN.

"ASEAN saat itu menolak legitimasi pemerintah kami, namun secara paradoks juga memainkan peran penting sebagai penengah dalam proses perdamaian," kata Hun Sen dalam pidatonya di Kantor Sekretariat ASEAN, Senin (5/5/2025).

Kontradiksi inilah yang menjadi sorotan utama.

Di satu sisi, ASEAN menolak pengakuan terhadap pemerintah yang ia pimpin, namun di sisi lain menjadi fasilitator utama dalam mendatangkan pihak-pihak bertikai ke meja perundingan. Menurutnya, peran ini menunjukkan kekuatan diplomasi ASEAN yang tidak berpijak pada ideologi, tetapi pada semangat realistis dan penghormatan terhadap kedaulatan.

Hun Sen tidak segan menyampaikan kenyataan pahit bahwa ketakutan negara-negara ASEAN terhadap komunisme lebih besar daripada kepedulian terhadap genosida yang terjadi di negaranya.

"Tanpa bantuan ASEAN terhadap Khmer Merah, konflik sipil kami mungkin sudah berakhir lebih cepat," tegas dia.

Ia mengkritik bagaimana teori efek domino dan perang Indochina membuat wilayah ASEAN terbagi dalam dua blok: ASEAN lama dan negara-negara Indo-china, dengan Myanmar sebagai pengecualian. Teritori beberapa anggota ASEAN bahkan sempat digunakan sebagai basis militer untuk membombardir Kamboja dan Vietnam, menurut Hun Sen.

Baca Seluruh Artikel

© Rileks 2026. Semua hak dilindungi undang-undang