Liputan6.com, Jakarta - Puasa Senin-Kamis merupakan amalan sunnah yang sering dilakukan Rasulullah SAW. Siti Aisyah radhiyallahu anha pernah menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW senantiasa puasa di dua hari tersebut.
“Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selalu menjaga puasa Senin dan Kamis.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)
Senin dan Kamis merupakan hari penyampaian amalan setiap hamba Allah SWT. Oleh karenanya, akan jauh lebih jika saat amalan kita disampaikan dalam keadaan berpuasa, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW.
"Amal perbuatan manusia akan disampaikan pada setiap hari Kamis dan Senin. Maka aku ingin amalku diserahkan saat aku berpuasa.” (HR Tirmidzi)
Banyak keutamaan yang akan diperoleh bagi muslim yang berpuasa di hari Senin dan Kamis. Terlepas dari keutamaannya, muncul sebuah pertanyaan terkait boleh atau tidaknya puasa di dua hari tersebut jika sudah melewati Nisfu Sya’ban atau mulai memasuki separuh terakhir Sya’ban.
Bolehkah puasa Senin-Kamis setelah Nisfu Sya’ban, apakah haram? Simak penjelasan ulama kharismatik KH Yahya Zainul Ma’arif alias Buya Yahya.
Saksikan Video Pilihan Ini:
Petani Bantarsari Cilacap Demo tolak Kompensasi Lahan Garapan untuk Puskesmas

1 tahun yg lalu





![[Tabligh Akbar] Dari Banten untuk Indonesia Damai - Ustadz Adi Hidayat](https://i1.ytimg.com/vi/0IjyKlfB3Lo/maxresdefault.jpg)


![[LIVE] 40 Hadits Pokok Dalam Islam - Ustadz Adi Hidayat](https://i1.ytimg.com/vi/M98MxIs-cn4/maxresdefault.jpg)